Magang 2 "Model-Model Pembelajaran Kurikulum 2013" Part 1
Nama : Syarifah Amaliah Farhana
NIM : 11901201
Kelas : PAI 6H
Model-Model Pembelajaran Kurikulum 2013
(Part 1)
Dalam
Permendikbud No.65 Tahun 2013 tentang Standar Poses, kegiatan inti menggunakan
model pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar
yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran.
Pemilihan
pendekatan tematik dan/atau tematik terpadu dan/atau saintifik dan/atau inkuiri
dan penyingkapan (discovery) dan/atau pembelajaran yang menghasilkan
karya berbasis pemecahan masalah (project based learning) tentunya
disesuaikan dengan karakteristik kompetensi dan jenjang pendidikan. Dalam
implementasinya, guru dapat menerapkan berbagai model pembelajaran, antara lain
Discovery Learning, Inquiry, Contextual, Project Based Learning, dan
Problem Based Learning.
1. Discovery
Learning
Model
pembelajaran Discovery Learning mengarahkan siswa untuk memahami konsep,
arti, dan hubungan, melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan
(Budiningsih, 2005: 43).
Dengan
penggunaan model pembelajaran discovery learning siswa didorong untuk mengidentifikasi
apa yang ingin diketahui dilanjutkan dengan mencari informasi sendiri kemudian
mengorganisasi atau membentuk (konstruksi) apa yang mereka ketahui dan mereka
pahami dalam suatu bentuk akhir.
Langkah
Pembelajarannya terdiri dari :
1) Menciptakan
stimulus/ rangsangan (Stimulation)
Kegiatan penciptaan stimulus dilakukan pada saat siswa melakukan aktivitas mengamati fakta atau fenomena dengan cara melihat, mendengar, membaca, atau menyimak. Pada tahapan ini siswa dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan perhatian, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri.
2) Menyiapkan
pernyataan masalah (Problem Statement)
Setelah stimulasi dilakukan, langkah selanjutnya adalah guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atau opini atas pertanyaan masalah) (Syah, 2004: 244).
3) Mengumpulkan
data (Data Collecting)
Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan dalam rangka membuktikan benar atau tidaknya hipotesis (Syah, 2004:244).
4) Mengolah data (Data
Processing)
Menurut Syah (2004: 244) pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi yang telah diperoleh siswa baik melalui wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan. Semua informai hasil bacaan, wawancara, observasi, dan sebagainya, semuanya diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu (Djamarah, 2002: 22).
5) Memverifikasi
data (Verrification)
Pada tahap ini siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan sebelumnya dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil data processing (Syah, 2004: 244).
6) Menarik
kesimpulan (Generalization)
Tahap
generalisasi/ menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang
dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang
sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi (Syah, 2004: 244).
2. Project
Based Learning
Pembelajaran
Berbasis Proyek (Project Based Learning atau PjBL) adalah model pembelajaran
yang menggunakan proyek/ kegiatan sebagai inti pembelajaran. Pembelajaran
Berbasis Proyek dirancang untuk digunakan pada permasalahan komplek yang
diperlukan peserta didik dalam melakukan insvestigasi dan memahaminya.
Langkah
Pembelajarannya terdiri dari :
1) Menyiapkan
pertanyaan atau penugasan proyek
Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial, yaitu pertanyaan yang memberikan tugas kepada siswa dalam melakukan suatu aktivitas. Mengambil topik yang sesuai dengan dunia nyata yang dimulai dengan sebuah investigasi mendalam.
2) Mendesain
perencanaan proyek
Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara guru dengan siswa sehingga siswa merasa “memiliki” proyek tersebut. Perencanaan berisi aturan main, pemilihan aktivitas pendukung untuk menjawab pertanyaan esensial dengan cara mengintegrasikan berbagai subjek yang mungkin.
3) Menyusun jadwal
Guru dan siswa secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas dalam menyelesaikan proyek.
4) Memonitor
kegiatan dan perkembangan proyek
Guru bertanggungjawab untuk melakukan monitor terhadap aktivitas siswa selama menyelesaikan proyek. Monitoring dilakukan dengan cara memfasilitasi siswa pada setiap proses.
5) Menguji hasil
Penilaian dilakukan untuk membantu guru dalam mengukur ketercapaian standar, berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing-masing siswa, memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai siswa, membantu guru dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya.
6) Mengevaluasi
kegiatan/ pengalaman
Pada
tahap ini siswa diminta untuk mengungkapkan perasaan dan pengalamannya selama
menyelesaikan proyek.
3. Problem
Based Learning
Pembelajaran
berbasis masalah (Problem Based Learning) merupakan sebuah model pembelajaran
yang menyajikan berbagai permasalahan nyata dalam kehidupan sehari-hari peserta
didik (bersifat kontekstual) sehingga merangsang peserta didik untuk belajar.
Langkah
Pembelajarannya terdiri dari :
1) Mengorientasi
peserta didik pada masalah
Pembelajaran dimulai dengan menjelaskan tujuan pembelajaran dan aktivitas-aktivitas yang akan dilakukan. Tahapan ini sangat penting dimana guru harus menjelaskan dengan rinci apa yang dilakukan oleh siswa maupun guru, serta dijelaskan bagaimana guru akan mengevaluasi proses pembelajaran.
2)
Mengorganisasikan kegiatan pembelajaran
Selain mengembangkan keterampilan memecahkan masalah, pembelajaran PBL juga mendorong peserta didik belajar berkolaborasi. Pemecahan suatu masalah sangat membutuhkan kerjasama dan sharing antar anggota. Oleh sebab itu guru dapat memulai kegiatan pembelajaran dengan membentuk kelompok-kelompok siswa, masing-masing kelompok akan memilih dan memecahkan masalah yang berbeda.
3) Membimbing
penyelidikan mandiri dan kelompok
Pada tahap ini, guru harus mendorong siswa untuk mengumpulkan data dan melaksanakan eksperimen (mental maupun aktual) sampai mereka betul-betul memahami dimensi situasi permasalahan.
4) Mengembangkan
dan menyajikan hasil karya
Tahap
penyelidikan diikuti dengan menciptakan artefak (hasil karya) dan pameran.
Artefak lebih dari sekedar laporan tertulis, namun bisa berupa suatu video tape
(menunjukkan situasi masalah dan pemecahan yang diusulkan), model (perwujudan
secara fisik dari situasi masalah dan pemecahannya), program komputer, dan
sajian multimedia.
Langkah selanjutnya adalah memamerkan hasil karyanya dan guru berperan sebagai organisator pameran. Akan lebih baik jika dalam pameran ini melibatkan siswa lainnya, guru-guru, orang tua, dan lainnya dapat menjadi “penilai” atau memberikan respon.
5) Analisis dan
evaluasi proses pemecahan masalah
Fase
yang terakhir ini dimaksudkan untuk membantu siswa menganalisis dan
mengevaluasi proses mereka sendiri dan keterampilan penyelidikan dan
intelektual yang mereka gunakan. Selama fase ini guru meminta siswa untuk
merekonstruksi pemikiran dan aktivitas yang telah dilakukan selama proses
kegiatan belajarnya.
Selain ketiga model tersebut, masih ada model pembelajaran kontekstual dan inkuiri. Model-model tersebut akan dijelaskan pada bagian part 2 yaa.
Komentar
Posting Komentar