Magang 2 "Model-Model Pembelajaran Kurikulum 2013" Part 2
Nama : Syarifah Amaliah Farhana
NIM : 11901201
Kelas : PAI 6H
Model-Model Pembelajaran Kurikulum 2013
(Part 2)
Sebelumnya
sudah dipaparkan bahwa Model-Model Pembelajaran Kurikulum 2013 ada lima yaitu :
Discovery Learning, Project Based Learning, Problem Based Learning, Contextual, Inquiry. Pada bagian
part 1 sudah dijelaskan tentang model pembelajaran Discovery Learning, Project
Based Learning, dan Problem Based Learning. Oleh karena itu, pada bagian part
2 ini akan dilanjutkan model-model pembelajaran kurikulum 2013 yaitu Contextual,
Inquiry sebagai berikut ini :
4. Pembelajaran
Kontekstual
Pembelajaran
Kontekstual atau Contextual Teaching Learning (CTL) adalah sebuah sistem
belajar yang didasarkan pada filosofi konstruktivistik. Filosofi ini berasumsi bahwa
siswa mampu menyerap pelajaran apabila mereka menangkap makna dalam materi akademis
yang mereka terima, dan mereka menangkap makna dalam tugas-tugas sekolah jika
mereka bisa mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan dan pengalaman yang sudah
mereka miliki sebelumnya.
CTL
merupakan konsep belajar yang membantu para guru mengaitkan antara materi yang
diajarkannya dengan situasi nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai
anggota keluarga dan masyarakat.
Terdapat
lima (5) karakteristik penting dalam proses pembelajaran yang menggunakan CTL:
a. Dalam CTL
pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activing
knowledge). Artinya, apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan
yang sudah dipelajari.
b. Pembelajaran
yang kontekstual adalah pembelajaran dalam rangka memperoleh dan menambah
pengetahuan baru (acquiring knowledge) dengan cara deduktif. Artinya,
pembelajaran dimulai dengan mempelajari secara keseluruhan kemudian
memperhatikan detailnya.
c. Pemahaman
pengetahuan (understanding knowledge) berarti pengetahuan yang diperoleh
bukan untuk dihafal, melainkan untuk dipahami dan diyakini.
d. Mempraktikkan
pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge). Artinya,
pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam
kehidupan nyata.
e. Melakukan refleksi
(reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan. Hal
ini dilakukan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan dan penyempurnaan
strategi.
5. Pembelajaran
Inkuiri
Pembelajaran
inkuiri merupakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh
kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu (benda, manusia atau
peristiwa) secara sistematis, kritis, logis, analitis sehingga mereka dapat merumuskan
sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Peran siswa dalam pembelajaran
ini adalah mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran, sedangkan guru
berperan sebagai “fasilitator” dan “pembimbing” siswa untuk belajar.
Pembelajaran
inkuiri merupakan rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses
berpikir kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari
suatu masalah yang dipertanyakan. Proses berpikir itu sendiri biasanya
dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan siswa.
a. Ciri-ciri
Pembelajaran Inkuiri
Pembelajaran
inkuiri memiliki beberapa ciri, di antaranya :
Pertama,
pembelajaran inkuiri menekankan kepada aktivitas siswa secara maksimal untuk
mencari dan menemukan.
Kedua,
seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan
jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat
menumbuhkan sikap percaya diri (self belief).
Ketiga,
tujuan dari pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara
sistematis, logis, dan kritis, atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai
bagian dari proses mental.
b. Prinsip-Prinsip
Pembelajaran Inkuiri
Pembelajaran
inkuiri mengacu pada prinsip-prinsip berikut ini :
1) Berorientasi
pada Pengembangan Intelektual. Tujuan utama dari pembelajaran inkuiri adalah
pengembangan kemampuan berpikir. Dengan demikian, pembelajaran ini selain
berorientasi kepada hasil belajar juga berorientasi pada proses belajar.
2) Prinsip
Interaksi. Proses pembelajaran pada dasarnya adalah proses interaksi, baik interaksi
antara siswa maupun interaksi siswa dengan guru, bahkan interaksi antara siswa
dengan lingkungan.
3) Prinsip
Bertanya. Peran guru yang harus dilakukan dalam menggunakan pembelajaran ini
adalah guru sebagai penanya. Sebab, kemampuan siswa untuk menjawab setiap
pertanyaan pada dasarnya sudah merupakan sebagian dari proses berpikir. Dalam
hal ini, kemampuan guru untuk bertanya dalam setiap Langkah inkuiri sangat
diperlukan.
4) Prinsip Belajar
untuk Berpikir. Belajar bukan hanya mengingat sejumlah fakta, akan tetapi
belajar adalah proses berpikir (learning how to think), yakni proses mengembangkan
potensi seluruh otak.
5) Prinsip
Keterbukaan. Tugas guru adalah menyediakan ruang untuk memberikan kesempatan
kepada siswa mengembangkan hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebenaran
hipotesis yang diajukannya.
c. Langkah-Langkah Pelaksanaan Pembelajaran Inkuiri
Proses pembelajaran inkuiri dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut:
1) Merumuskan
masalah; kemampuan yang dituntut adalah:
(1) kesadaran
terhadap masalah; (2) melihat pentingnya masalah dan (3) merumuskan masalah.
2) Mengembangkan
hipotesis; kemampuan yang dituntut dalam mengembangkan hipotesis ini
adalah: (1) menguji dan menggolongkan data yang dapat diperoleh; (2) melihat
dan merumuskan hubungan yang ada secara logis; dan (3) merumuskan hipotesis.
3) Menguji
jawaban tentatif; kemampuan yang dituntut adalah: (1) merakit peristiwa, terdiri
dari: mengidentifikasi peristiwa yang dibutuhkan, mengumpulkan data, dan mengevaluasi
data; (2) menyusun data, terdiri dari: mentranslasikan data, menginterpretasikan
data dan mengklasifikasikan data; (3) analisis data, terdiri dari: melihat
hubungan, mencatat persamaan dan perbedaan, dan mengidentifikasikan trend,
sekuensi, dan keteraturan.
4) Menarik
kesimpulan; kemampuan yang dituntut adalah: (1) mencari pola dan makna
hubungan; dan (2) merumuskan kesimpulan.
5)
Menerapkan kesimpulan dan generalisasi.
d. Kelebihan dan
Kekurangan Pembelajaran Inkuiri
Pembelajaran
inkuiri merupakan pembelajaran yang banyak dianjurkan, karena memiliki beberapa
keunggulan, diantaranya :
1) Pembelajaran
ini merupakan pembelajaran yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif,
dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui model ini
dianggap jauh lebih bermakna.
2) Pembelajaran
ini dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya
belajar mereka.
3) Pembelajaran
ini merupakan strategi yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi
belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku
berkat adanya pengalaman.
4) Keuntungan lain
adalah dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di atas
rata-rata.
Selain memiliki keunggulan, pembelajaran ini juga
mempunyai kelemahan, diantaranya:
1) Sulit
mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.
2) Sulit dalam
merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam
belajar.
3) Kadang-kadang
dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga sering
guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan.
4) Selama kriteria
keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi
pelajaran, maka strategi ini tampaknya akan sulit diimplementasikan.
Komentar
Posting Komentar